De Ja Vu

My Life from my point of view

About Me December 3, 2007

Filed under: Behaviour & Personality — inverno @ 10:59 am

I Somewhere between conservative and dreamer, moderately interested in the creative arts.

I Felling a strong compulsion towards duty and responsibility, I can say that I very organized person and pride my self on my professional competence, carefully thinking in making decision.

 Easy go in either a crowd or by myself, keeping a moderately social life. I have a great deal of tact, and believe in the situational equality of people. I have an approachable and kind personality.

I can sometime feel sad, stressed, worried or embarassed under the weight of a situation, but I able to act quite calm and reserved without yielding to the stressed. Responsive without being overly reactive.

That’s me… ^0^

 

 

 

Soooo… Romantic…. November 30, 2007

Filed under: Phoem — inverno @ 11:19 am

When the night comes 

I am still here lying in the sand

Watching the fallen stars in the sky

I think about you every waking moment of the day.

Not a second goes by that I don’t think of you.

Every single moment of the day, I think of you,

and as if that’s not enough

Wish you are here right beside me 

And never let you go

We both know that love will find a way

And time will tell

 

The Narcist November 30, 2007

Filed under: blog of narcist — inverno @ 9:08 am

 Cool... Narcissist berasal dari mitologi yunani kuno tentang seorang pemuda tampan bernama Narcissus yang kelebihan PD, dia sangat mengagumi ketampanannya, sehingga dia menjadi sombong. Melihat hal ini dewi Nemesis marah, dia pun mengutuk Narcissus.

Di suatu hari yang cerah, Narcissus melewati sebuah mata air yang teramat jernih nan indah. Nah di pantulan ata air itulah, Narcissus berdiri mematung menatap dan mengagumi wajahnya yang tampan. Sampai akhir hayatnya dia tidak bisa mencintai siapapun selain dirinya sendiri.

Begitu kurang lebih cerita tentang asal mula narcissist, lo boleh cari di semua literature, maka lo akan menemukan data yang sama tentang legenda narcissist ini.Nah, kalo ingin mengkaji lebih jauh, sebenernya kepribadian narcissist itu kaya apa sih?

Yang pertama dan yang paling penting, dia sangat mengagumi dirinya sendiri, itu harus, karena lo ga akan pernah bisa menjadi narcissist tanpa pernah mengetahui betapa indahnya diri lo.

Tapi seorang narcissist sejati sebenarnya memiliki kepribadian yang rapuh, jadi jangan dilihat dari betapa senangnya dia mendapat perhatian dari orang lain, karena kalau sampai narcissist akut, itu bahaya.

Seorang narcissist cenderung memiliki sifat egois, tapi seorang egoistis belum tentu narcissist. Disinilah letak perbedaannya, lo boleh liat temen ato kerabat lo yang menurut lo egois, dia belum tentu narcissist, paling tidak narcissist senang menjadi pusat perhatian, dia besar karena pujian, dan butuh pengakuan dari orang lain untuk menimbulkan rasa percaya dirinya.

Narcissist sangat sensitive pada kritik, bukan karena kritik membangun yang dapat membuatya terpacu untuk instropeksi diri, tapi justru kritikan itu merupakan cerminan kekurangan dirinya, bahwa dia merasa selama ini ‘perfect’ tidak heran, kalo sedikit kritikan akan membuatnya ‘down’.Sebagai contoh, kalo orang normal dikritik pasti dia akan cepat-cepat instropeksi, atau paling tidak secara sopannya akan mengucapkan terima kasih karena sudah mendapat masukan.

Tapi gue sebagai mahluk narcissist yang bila menerima kritikan pasti akan merasa:“kayanya selama ini gue baik-baik aja deh, ngga ada yang salah kok dengan diri gue”, sejatinya gue akan mencari pembenaran (dukungan) dari orang lain, belum cukup, gue akan bilang: “selama gue tidak melakukan tindakan kriminal, dan tidak merugikan orang lain, kenapa juga musti pusing, repot amat, toh selama ini gue merasa puas kok dengan apa yang ada dalam diri gue, dan ga ada yang perlu gue rubah, karena gue ya begini ini,”

Narcissist menaruh perhatian berlebih pada dirinya sendiri, dia kurang sensitive/peka pada orang lain, dia (si narcissist ini) mungkin memang menyadari kehadiran orang-orang di sekitarnya, tapi dia tidak akan peduli dengan orang lain, kecuali dengan urusan yang menyangkut dirinya.

Bisa dibilang, itulah yang terjadi pada diri gue, mungkin bisa dibilang gue ini cewe cermin, yang ngga bisa jalan tanpa berhenti sepintas saat melihat cermin, atau ngga bisa pergi kemana-mana tanpa membawa cermin.Itu bukan sifat cewe lho, tapi gejala narcissist..! Dimana gue selalu ingin menjadi pusat perhatian orang dengan aksesoris yang gue kenakan, semata-mata adalah untuk kepuasan pribadi, bahwa di mata orang lain gue terlihat cantik, modis, feminin, anggun dan bergaya elegan. Tidak cukup cuma itu, gue memerlukan pujian sebagai pengakuan dari orang lain bahwa gue memang cantik dan menarik,, :p, tanpa peduli bahwa pujian itu tulus gue udah cukup puas, tanpa mau bersusah payah memberikan empati atau simpati terhadap orang yang memuji gue, maka gue cuma mau mendengarkan segala-galanya tentang diri gue.

Mungkin kedengerannya egois banget yach, tapi itulah narcissist, suatu kepribadian menyimpang yang didasari rasa pemujaan berlebih terhadap diri sendiri.

Maka bisa dimaklumi bila cinta gue pada seseorang adalah cinta yang narcissist, dimana gue mengharapkan dia selalu mengorbankan dirinya demi gue tanpa mau memberikan efek timbal balik yang sama sebagai bentuk rasa kasih sayang yang setara.

Tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang gue lakukan karena ingin mendapat pujian/penghargaan/pengakuan dari orang lain, dan disinilah sifat narcissist gue ini muncul, dimana gue merasa bangga bukan main pada diri gue sendiri.

Tapi memang segala sesuatu di dunia tidak ada yang sempurna, gue tau, sebagai manusia biasa gue juga ga luput dari kelebihan dan kekurangan, nah meskipun gue menyadari sebagian kekurangan gue ini, tetep aja gue berdalih:”please dech, secara gue narcissist gitu loohh, ga penting banget dech dipikirin, biarpun seluruh dunia penuh dengan orang cantik, pintar, jenius dan hebat, tapi tetap gue punya dunia sendiri yang mencerminkan gue-lah yang paling hebat.”Sekali lagi ya, itu bukan sombong, arogan atau angkuh, tapi gejala narcissist setengah akut, karena biar gimanapun juga, gue masih tetep punya sifat tenggang rasa, sosialisasi dengan orang, sedikit rasa empati dan simpati, walaupun ujung-ujungnya ya narcissist juga.. hehehe,,,:p

Tapi mungkin walaupun gue mulai mengurangi sifat narcissist ini, tetep main hitung-hitungan juga. Misalnya, secara sadar gue tau bahwa dalam hidup bermasyarakat yang profesional kita harus saling mengisi dan membantu, pada intinya, gue memang selalu berusaha mengambil sikap yang manis, atau bisa dibilang, ber-empati pada orang lain, tidak selalu memikirkan diri sendiri, tapi tetap didasari sifat narcissist yang ingin ”feedback” (timbal balik) yang setara-sejajar bila gue melakukan kebaikan pada seseorang, dimana gue mengharapkan keuntungan secara narcissist, ”you take it or leave it” segala sesuatu itu ada harganya.

Sekarang yang ada pada diri gue hanyalah rasa kagum dan pemujaan setinggi langit terhadap betapa indahnya anugrah Tuhan yang diberikan kepada gue, dan bila orang memuji gue, maka gue masih tanpa sungkan berkata:”ya secara emang gue cerdas sich..”

Hanya sebatas itu, gue tetap bisa diskusi serius tanpa harus membanggakan diri gue sendiri, gue punya rasa percaya diri tinggi, berawal dari sifat narcissist yang over PD, paling tidak gue sudah mulai memperhatikan orang lain di sekitar gue.

Betapa mulianya diriku ini ya, memperhatikan orang..??Dulu si… boro-boro… huahahaha,,, :p Tapi yang jelas gue tetep anak manis yang selalu ceria setiap saat, perhatian pada orang lain, baik hati, namun karena narcissist yaa,,, sombong dikiiit la-ya, dan gue sangat easy-going.

Terkadang sifat narcissist gue muncul jadi stadium 3, bila gue ketemu orang yang karakternya lebih lemah dari gue, dengan kata lain dia ini mudah dimanipulasi, pasrah, sementara gue bersifat terlalu dominan.

Tapi gue terkadang bisa juga ‘insyaf’, bila mengingat Allah yang maha Esa nan Agung dan tiada tandingannya di dunia ini.Beneran loch, ini bukan narcissist, gue juga seringan insyaf-nya, menjadi pemerhati & pengamat masalah sosial ketimbang diri gue sendiri.Gue ga pernah membenci orang lain secara khusus, semua pasti diterima dengan baik menjadi teman gue, asal lo tahan aja ngadepin gue,,, hahahahaha,,, ^0^ 

 

Is that Me???? November 12, 2007

Filed under: Behaviour & Personality — inverno @ 2:20 am

82 % Obsessive-Compulsive Personality Disorder – individual is preoccupied with orderliness, perfectionism, and control at the expense of flexibility, openness, and efficiency.

58% Narcissistic Personality Disorder – individual has a grandiose view of themselves, a need for admiration, and a lack of empathy that begins by early adulthood and is present in various situations. These individuals are very demanding in their relationships.

62% Histrionic Personality Disorder – individual often displays excessive emotionality and attention seeking in various contexts. They tend to overreact to other people, and are often perceived as shallow and self-centered.

66% Paranoid Personality Disorder – individual generally tends to interpret the actions of others as threatening.

 

Being Twenty Something November 7, 2006

Filed under: My life's POV — inverno @ 4:24 am

They call it the “Quarter-life Crisis.” It is when you stop going along with the crowd and start realizing that there are many things about yourself that you didn’t know and may not like. You start feeling insecure and wonder where you will be in a year or two, but then get scared because you barely know where you are now. You start realizing that people are selfish and that maybe, those friends that you thought you were so close to aren’t exactly the greatest people you have ever met, and the people you have lost touch with are some of the most important ones. What you don’t recognize is that they are realizing that too, and aren’t really cold, catty, mean or insincere, but that they are as confused as you. You look at your job…and it is not even close to what you thought you would be doing, or maybe you are looking for a job and realizing that you are going to have to start at the bottom and that scares you. You miss the comforts of college…of groups, of socializing with the same people on a constant basis. But then you realize that maybe they weren’t so great after all. You are beginning to understand yourself and what you want and don’t want in life. Your opinions have gotten stronger. You see what others are doing and find yourself judging more than usual because suddenly you realize that you have certain boundaries in your life and are constantly adding things to your list of what is acceptable and what isn’t. One minute, you are insecure and then the next, secure. You laugh and cry with the greatest force of your life. You feel alone and scared and confused. Suddenly, change is the enemy and you try and cling on to the past with dear life, but soon realize that the past is drifting further and further away, and there is nothing to do but stay where you are or move forward. You get your heart broken and wonder how someone you loved could do such damage to you. Or you lay in bed and wonder why you can’t meet anyone decent enough that you want to get to know better. Or maybe you love someone but love someone else too and cannot figure out why you are doing this because you know that you aren’t a bad person. One night, stands and random hook ups start to look cheap. Getting wasted and acting like an idiot starts to look pathetic. You go through the same emotions and questions over and over, and talk with your friends about the same topics because you cannot seem to make a decision. You worry about loans, money, the future and making a life for yourself…and while winning the race would be great, right now you’d just like to be a contender! What you may not realize is that everyone reading this relates to it. We are in our best of times and our worst of times, trying as hard as we can to figure this whole thing out.

 

Setelah gue tes, gue lebih ke “ENTJ” August 14, 2006

Filed under: Behaviour & Personality — inverno @ 7:03 am

Extraverted iNtuitive Thinking Judging
by Joe ButtProfile: ENTJ
Revision: 3.0
Date of Revision: 27 Feb 2005


“I don’t care to sit by the window on an airplane. If I can’t control it, why look?”

ENTJs have a natural tendency to marshall and direct. This may be expressed with the charm and finesse of a world leader or with the insensitivity of a cult leader. The ENTJ requires little encouragement to make a plan. One ENTJ put it this way… “I make these little plans that really don’t have any importance to anyone else, and then feel compelled to carry them out.” While “compelled” may not describe ENTJs as a group, nevertheless the bent to plan creatively and to make those plans reality is a common theme for NJ types.

ENTJs are often “larger than life” in describing their projects or proposals. This ability may be expressed as salesmanship, story-telling facility or stand-up comedy. In combination with the natural propensity for filibuster, our hero can make it very difficult for the customer to decline.

TRADEMARK: — “I’m really sorry you have to die.” (I realize this is an overstatement. However, most Fs and other gentle souls usually chuckle knowingly at this description.)

ENTJs are decisive. They see what needs to be done, and frequently assign roles to their fellows. Few other types can equal their ability to remain resolute in conflict, sending the valiant (and often leading the charge) into the mouth of hell. When challenged, the ENTJ may by reflex become argumentative. Alternatively (s)he may unleash an icy gaze that serves notice: the ENTJ is not one to be trifled with.

Functional Analysis

Extraverted Thinking

“Unequivocating” expresses the resoluteness of the ENTJ’s dominant function. Clarity of convictions endows these Thinkers with a knack for debate, or wanting knack, a penchant for argument. The light and heat generated by Thinking at the helm can be impressive; perhaps even overwhelming. Experience teaches many ENTJs that restraint may often be the better part of valor, lest one find oneself victorious but alone.

Introverted iNtuition

The auxiliary function explores the blueprints of archetypal patterns and equips Thinking with a fresh, dynamic sense of how things work. Improvising on the fly is something many ENTJs do very well. As Thinking’s subordinate, insights are of value only insofar as they further the Right, True Cause celebre. [n.b.: ENTJs are capable of living on a higher plane, if you will, and learning to value individuals even above their principles. The above dynamic suggests less individuation.]

Extraverted Sensing

Sensing reaches out to embrace that which physically touches it. ENTJs have an awareness of the real; of that which exists. By stilling the engines of Thinking and iNtuition, this type may experience the Here and Now, and know things not dreamt of nor even postulated in iNtuition’s philosophy. Sensing’s minor role, however, puts it at risk for distortion or extreme weakness beneath the hustle and bustle of the giants N and T.

Introverted Feeling

Feeling is romantic, as the ethereal as the inner world from whence it doth emerge. When it be awake, feeling evokes great passion that knows not nuance of proportion nor context. Perhaps these lesser functions inspire glorious recreational quests in worlds that never were, or may only ever be in fantasy. When overdone or taken too seriously, Fi turned outward often becomes maudlin or melodramatic. Feeling in this type appears most authentic when implied or expressed covertly in a firm handshake, accepting demeanor, or act of sacrifice thinly covered by excuses of lack of any personal interest in the relinquished item.

 

Resensi Buku: Ayat2 Cinta from my ‘POV’ August 14, 2006

Filed under: Books — inverno @ 6:38 am

Ayat-ayat Cinta

Apakah itu….?? yups, itu buku karangan Habiburahhman El… (lupa), tapi yang jelas buku ini bagus bagi pencinta sastra…

Emang sih gue agak telat bacanya, mengingat buku ini pertama kali terbit tahun 2004, tapi buku ini tetap menarik untuk dibaca, awalnya gue ga gitu tertarik sama buku-buku yang bernafaskan islami macam begini, tapi tak terasa, baru halaman pertama gue nyoba baca, gue ga tahan untuk terus membacanya sampai selesai, boleh dibilang, ini buku paling seru yang pernah gue baca setelah Harry Potter, Da Vinci Code, Larry King, Agatha Crhistie, John Grisham.

          Kalau dilihat dari santun bahasanya yang tinggi, buku ini gue golongkan sebagai karya sastra, swear, ga sembarang penyair sanggup membuat karya seindah itu, apalagi dipadu padankan dengan filosofi islam, Al-Quran, perpaduan kultur budaya timur tengah, benar-benar penuh makna dan menyentuh hati.

          Jujur, gue menangis penuh haru setelah selesai membaca novel ini, biasanya gue ngga gitu suka sama cerita roman-percintaan, tapi kali ini bener-bener merasuk ke dalam kalbu, hal pertama yang ingin gue lakukan setelah membaca novel ini adalah memahami islam dengan lebih dalam.

          Si penulis novel berhasil menggambarkan indahnya islam sebagai agama perdamaian, tidak sekedar sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad, dengan kesantunan bahasanya, dia dapat meluruskan polemic islam di dunia barat, dengan penjabaran sederhana (dari kacamata orang awam) dia menjelaskan esensi islam dengan lugas dan konkrit.

          Mungkin sebaiknya orang-orang yang belum memahami islam sepenuhnya, bisa membaca buku ini sebagai permulaan, daripada mereka mencari di berbagai sumber yang belum jelas kebenarannya, dengan adanya ratusan bahkan ribuan hadits dari berbagai macam mahzab & ulama (bahkan ada yang diragukan ke-sahihannya) terus terang bakalan bikin orang bingung, salah-salah malah menyimpang dari ajaran islam yang sebenarnya.

          Jadi bila kita ingin mengetahui adab islam dalam pergaulan, bermasyarakat, bertetangga, sopan-santun terhadap sesama, bagaimana hubungan pria & wanita dari sudut pandang islam, ya tidak ada salahnya membaca buku ini.

          Tidak perlu kecerdasan tingkat tinggi untuk memahami keseluruhan isi buku ini, karena novel ini sendiri bukan bermaksud menggurui atau mendoktrin pembacanya untuk mengikuti jalan pemikirannya, tapi kurang lebih sebagai makna penjabaran cinta yang lebih dalam dari sisi islam, begitulah kalo bisa gue terjemahkan isi keseluruhan novel ini.

          Dimana gue menemukan suatu pemahaman baru yang tidak pernah gue sadari sebelumnya, bahwa islam adalah agama yang indah, dan gue bersyukur terlahir sebagai muslim, intinya, novel ini memang membuka mata kita tentang kenyataan islam yang sesungguhnya, begitu bermakna dan sangat bersahaja.

          Mungkin cara gue memandang keseluruhan novel ini berbeda dari orang-orang kebanyakan, tapi penilaian seseorang sifatnya subyektif, jadi nikmatilah saja novel ini sebagai bacaan penyejuk di tengah dahaga… ^0^

 

Heboh Nadine…!! July 31, 2006

Filed under: Uncategorized — inverno @ 5:33 am

Nadine tuh sapa sih…?? Di sebuah pertemuan milis, dan di

sela canda tawa mereka, ada beberapa orang yang saling

mencela,, mereka bilang.. “dasar Nadine..”, atau.. “Nadine

luh..”, di tengah kebingungan gue ada yang menjelaskan,

kalo Nadine tuh celaan orang yang “kagak nyambung’,,

biasanya kan istilah orang Jakarta “jaka sembung”, tapi

sekarang ada model baru sehubungan dengan miss

universe yang kepleset Indonesia menjadi city…

 

Gue baru ngeh,, karena kisah si Nadine ini jadi sorotan

rame di milis, pokoknya rame banget deh, sampe cuplikan

videonya pun beredar.

 

Sekilas mungkin kita akan terlarut ikut menjelek-jelekkan

nadine, yang terlintas di pikiran kita adalah,, itu kan

”event international” kok bisa-bisanya nadine keseleo

lidah macam begitu, dan argumen lain yang muncul dan

intinya membahas sisi kejelekan Nadine, dari mulai

asal-usulnya-lah yang indo-blasteran (Jember-Jerman)

ngga ada tampang indonesianes buat jadi miss Indonesia.

 

Tapi gue melihat hal ini dari sisi lain, orang Indonesia itu

(termasuk gue) memang ngga ada habis-habisnya kalo

ngritik orang lain, apapun jadi keliatan jelek di mata kita,

 

Sebenarnya, mereka tuh sadar ga sih sama kekurangan

mereka sendiri, terlepas dari kekurangan Nadine berlaga

di pentas internasional miss universe itu, seberapa banyak

sih orang Indonesia yang jago inggris tapi ngga pernah

kepeleset lidah pada awalnya.

 

Kita liatnya gini aja deh, banyak kok pejabat sok

pidato/ngomong inggris atau artis ngomong inggris tapi

ancur, juga banyak orang bule keseleo lidah ngomong

bahasa Indonesia ngga bener, jadi itu sesuatu kekurangan

yang lumrah kan.??…

 

Terlepas dari masalah Nadine yang telah dianggap

mempermalukan bangsa Indonesia (berat amat

tuduhannya) tapi jangan deh kita mencela orang seakan

menganggap diri kita paling sempurna, toh kita sendiri

belum tentu mampu berlaga di ajang internasional macam

begitu.

Maksud gue, okelah itu memang suatu kesalahan, tapi

mbok ya jangan terlalu sinis, sarkatis, dalam menilai

seseorang, toh indonesia adalah negara korup (nomor 3

atau 5 ya??) di dunia, dan kita juga ga malu kan

mengakuinya, jangan lantas menjelek-jelekkan Nadine,

seakan dia itu Cuma cantik doang tapi ngga punya otak.

Mbok ya mikir buat yang nyela (gue bukannya belain putri

Indonesia) tapi gue Cuma miris aja ngeliat sikap

orang”kita” yang gemar mengkritik tapi ngga bisa

“meluruskan”.

 

Perlu tingkat ke-PD-an tinggi untuk mentertawakan diri

sendiri dan mengakui kesalahan kita, justru Nadine telah

menggambarkan sikap orang Indonesia yang

sesungguhnya.

 

Gue dulu juga begitu, biar kata gue kepeleset kaya apa

juga, tapi tetep gue jalan terus, orang bijak ngga akan

mentertawakan orang lain, tapi justru kita harus berani

menjadi “trendsetter atau icon”. Intinya nih kalo kita mau

sok inggris,,, gue akan berkomentar kayak gini,,,

 

“so what,, (ngga pake gitchu loh)… it is not a bad thing,

everybody does a mistake in their life (and so do I), but

there’s the way we know a good thing and to make it

right. A success person is a person who has failed before;

a failed person is a person who has tried before not to

mention how many mistakes she/he made, but at least

they do something!! So, we all learned from a mistake do

we..??

 

Be a narcissist, and you know how to express your self,

say that.. I am the most pretty, hottie, charming, sexiest,

spanky, smarty, sweety gurl of the year. Do not afraid of

what the world says about you..!!!

 

Puput’s astrological profile July 31, 2006

Filed under: Uncategorized — inverno @ 5:24 am

Sun in Capricorn

When Puput was born, the Sun was in the Sign Capricorn, the

Elder. One critical point dominates every other consideration:

Puput’s basic sanity and vitality depend on a constant diet of

visible accomplishments. For this reason, Capricorn is often

framed as an “ambitious” sign. Yes and no: psychologically, all

Capricorn really refers to is self-discipline and sustained effort.

Even though Puput has those qualities in abundance, the key is

that she feeds herself through exploring and extending them. And

that’s something she can do in a conventional profession…or by

spending long hours devotedly learning to play the sitar. To that

end, Puput’s nature is determined, serious, and driven, no matter

where she aims it. Restraints on her focus and concentration are

anathema to her. For committed love really to work for Puput in

the long run, it must support her larger aims rather than

detracting from them. No clinging vines need apply, in other words

— although if Puput found herself with one, she’d probably honor

the commitment! In real intimacy, Puput’s self-containment may

let her slip into a kind of emotional invisibility or unavailability,

and clearly that must be avoided. Ditto for the perils of simple

exhaustion. The good news is that she brings to love the same

inestimable virtues she brings to the rest of her life: integrity,

devotion, a capacity to endure the threadbare patches, and

unerring realism

 

sister talk July 7, 2006

Filed under: My life's POV — inverno @ 9:07 am

Beberapa hari yang lalu, gue bicara banyak & lamma ke kk gue (sister talk), ada banyak hal yang kita diskusikan, mulai dari karir, pilihan hidup, sampe family story yg slama ini gw g pernah tau.

rada nyambung nih sama email temen gue beberapa hari yang lalu, dia crita ttg kehidupan anak muda di UK yg kebanyakan individualis, dimana keluarga & agama ga terlalu berpengaruh, dan kita bebas menentukan apapun yg kita inginkan, cukup moderat & liberal memang, gw lom sempet bales emailnya dia sih, krn ini mengenai my point of view,, yg lumayan puanjangg.. hehehe..

nah..nah.. jadi begini, my sister said: “hidup adalah sebuah pilihan”, dimana kita bisa bebas menentukan jalan kita sendiri, apakah nantinya kita akan menikah, melajang, dlsb.. hanya saja tiap pilihan itu kan ada konsekuensinya. kadang gue juga suka merasa,, apapun keputusan yg gw ambil, dan apapun tindakan yg gw lakukan, itu kan menjdai tanggung jawab gw, jd orang lain ngga perlu “urus”, ngga perlu repot, ngga perlu tau, tp kaka gw melihat dari sudut pandang lain. nyatanya, peran orang tua dalam kultur masyarakat indonesia masih sangat kental, biar gimana pun rasa kasih sayang & tanggung jawab ortu ngga akan putus walaupun si anak tlh tumbuh dewasa.

ada banyak perbedaan pola asuh di kultur kita dengan kultur barat, yang mungkin di kultur barat sana, biasanya, anak akan dilepas hidup mandiri bila dianggap cukup dewasa oleh ortunya, sedangkan di indo, sepertinya tanggung jawab terhadap pendidikan & perkembangan serta kelanjutan hidup si anak, more than responsibility to God, jadi tanggung jawab tsb akan dibawa smpai mati, dan tetap dipertanggung-jawabkan ke Yang Maha Kuasa.

so,, ngga heran, kehidupan kerukunan keluarga kita cukup erat, secara kk gue yg sudah berkeluarga masih tetep sharing opinion sama nyokap, dan keakraban di antara ponakan’s gue, juga cukup erat, terkadang, gw juga pengen memberontak, maksud gw gini: sgala action yg gue ambil itu kan gw “decision-maker”nya, ngapain juga mikirin orang, dalam hal ini adalah keluarga, dan pandangan orang lain terhadap kita, dimana kita mempunyai batasan2 tertentu dalam bertindak. tapi nyatanya,, itulah “hidup”, kita bersosialisasi, bermasyarakat, kita tdk bisa bertindak semau kita tanpa memedulikan perasaan orang lain, simple-nya sih kalo mau kaya’ gitu hidup aja di hutan.

so, gue mulai berpikir lebih jauh, tentang esensi sebuah keluarga dalam masyarakat indonesia, dan akhirnya gw mulai bersyukur, bahwa sejak kecil, gue diajari hormat kepada orang tua, bersikap tenggang rasa thdp sesama, bahwa kita hidup di tengah2 masyarakat, maka reputasi dan nama baik (sebagai keluarga yg tertib dan bermoral tentunya) itu penting untuk dijaga.
saat itu dia bicara banyak ke gue, ttg bagaimana sebuah pernikahan bagi tipikal keluarga indonesia bukan semata penyatuan 2 individu yang saling sayang/suka/cinta (*whatever*), tp juga penyatuan 2 rombongan keluarga yang berbeda.. tinggal bagaimana kita meyakini prinsip kita “where will our loyalities lie..?” nah,, nah,, sekarang,, gue menemukan sebuah kisah yang slama ini ga pernah terungkap, secara pada saat kejadian gue masih kecil, belia dan polos,,

kk gue yang no.2 (perempuan) adalah anak kesayangan ibu, dia selalu membelikan apapun yang diinginkan oleh ibu, pendeknya dia memang anak perempuan kebanggan orang tua (cantik, cewe bgts, sukses di karir) tp sayang keras kepalanya jadi, bagitu dia ingin sesuatu, maka keinginannya harus dituruti,,, nah-nah,, kejadiannya pada saat my second sister find his future-husband, and didn’t get enough trust from my family.. dari awal,, ibu ngga begitu sreg dgn pilihan dia, begitu juga dgn kk2 gue yang lain.

detail persisnya gw ga gitu tau ya, cuma ada kenyataan yg rada “jomplang” gw temui disini, dimana kk gw adalah wanita karir cantik, pintar, dan banyak duit, tp knp dia “end-up” sama ‘supir angkot’,,, please she could find a better man out there… (itu pikiran gue pd saat itu).

tp ternyata itu bukan masalah jodoh,, somehow, gue baru tau, kaka gue meninggal karena “guna-guna”, itulah sekelumit cerita dari nyokap gw.

malam itu, gw agak “berdebar2″ juga denger true story dari kk gue, dimana dia pernah mengalami semalaman ngga tidur (mungkin feeling/intuisi yang bicara) dan dia berdoa sepanjang malam, sambil menunggu pagi tiba, demi menangkal gangguan itu, itu pun yang dilakukan sepanjang malam ketika kk gw (D) menunggu dia (N) di rumah sakit, trus berdoa sepanjang malem, supaya gangguan itu ngga datang menyerang.

oh ya, apa yang terjadi  tatkala malam itu, kk gw menunggu di rumah? yah dia selamat dari “gangguan”, tp kk gue si (N) ini, krn dia dalam keadaan lemah, maka, kena’lah dia, kk gw (D) cerita, kalo lagi kumat (pengaruhnya), dia sangat keras kepala, apapun omongan keluarganya slalu ditentang, tp kalo pas si (N) ini lagi “normal” (setelah mendpt suntikan rohani tentunya), dia akan bilang… “kan bukan mau saya untuk begini, saya ngga mau seperti ini..”…

sementara nyokap gw cuma bilang simple… : “yaah, itu kan pilihan-mu sendiri”, saking seorang ibu ngga mau nyakitin perasaan anaknya…

ok,, enough about my story, my sister had rest in peace in her little world, may Good bless her… :)

gue berutang banyak sama nyokap gue, secara she took care of me very well at this ages, well, apa sih yang dibutuhin orang tua..? not money, not best medicine, not some nice vacation nor the gift…. tp kita hanya butuh menjaga perasaan beliau, itu saja yang gue dapat pahami selama ini.

ibu sebagai orang tua kita, sudah mengalami hidup lebih banyak dari kita, sering gue berkata tanpa mengabaikan perasaanya, tp memang analogi kehidupan itu sangat ironis, pada saat kita tua, kita butuh dimengerti, dihargai, dan dilayani,,, (sebagai balasan, krn beliau melayani kita sejak dalam kandungan..) krn hubungan darah antara ibu-anak adalah suatu mata rantai yang ngga bisa diputus oleh apapun.

oh, mum,, I luv u so much,,,

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.