Beberapa hari yang lalu, gue bicara banyak & lamma ke kk gue (sister talk), ada banyak hal yang kita diskusikan, mulai dari karir, pilihan hidup, sampe family story yg slama ini gw g pernah tau.
rada nyambung nih sama email temen gue beberapa hari yang lalu, dia crita ttg kehidupan anak muda di UK yg kebanyakan individualis, dimana keluarga & agama ga terlalu berpengaruh, dan kita bebas menentukan apapun yg kita inginkan, cukup moderat & liberal memang, gw lom sempet bales emailnya dia sih, krn ini mengenai my point of view,, yg lumayan puanjangg.. hehehe..
nah..nah.. jadi begini, my sister said: “hidup adalah sebuah pilihan”, dimana kita bisa bebas menentukan jalan kita sendiri, apakah nantinya kita akan menikah, melajang, dlsb.. hanya saja tiap pilihan itu kan ada konsekuensinya. kadang gue juga suka merasa,, apapun keputusan yg gw ambil, dan apapun tindakan yg gw lakukan, itu kan menjdai tanggung jawab gw, jd orang lain ngga perlu “urus”, ngga perlu repot, ngga perlu tau, tp kaka gw melihat dari sudut pandang lain. nyatanya, peran orang tua dalam kultur masyarakat indonesia masih sangat kental, biar gimana pun rasa kasih sayang & tanggung jawab ortu ngga akan putus walaupun si anak tlh tumbuh dewasa.
ada banyak perbedaan pola asuh di kultur kita dengan kultur barat, yang mungkin di kultur barat sana, biasanya, anak akan dilepas hidup mandiri bila dianggap cukup dewasa oleh ortunya, sedangkan di indo, sepertinya tanggung jawab terhadap pendidikan & perkembangan serta kelanjutan hidup si anak, more than responsibility to God, jadi tanggung jawab tsb akan dibawa smpai mati, dan tetap dipertanggung-jawabkan ke Yang Maha Kuasa.
so,, ngga heran, kehidupan kerukunan keluarga kita cukup erat, secara kk gue yg sudah berkeluarga masih tetep sharing opinion sama nyokap, dan keakraban di antara ponakan’s gue, juga cukup erat, terkadang, gw juga pengen memberontak, maksud gw gini: sgala action yg gue ambil itu kan gw “decision-maker”nya, ngapain juga mikirin orang, dalam hal ini adalah keluarga, dan pandangan orang lain terhadap kita, dimana kita mempunyai batasan2 tertentu dalam bertindak. tapi nyatanya,, itulah “hidup”, kita bersosialisasi, bermasyarakat, kita tdk bisa bertindak semau kita tanpa memedulikan perasaan orang lain, simple-nya sih kalo mau kaya’ gitu hidup aja di hutan.
so, gue mulai berpikir lebih jauh, tentang esensi sebuah keluarga dalam masyarakat indonesia, dan akhirnya gw mulai bersyukur, bahwa sejak kecil, gue diajari hormat kepada orang tua, bersikap tenggang rasa thdp sesama, bahwa kita hidup di tengah2 masyarakat, maka reputasi dan nama baik (sebagai keluarga yg tertib dan bermoral tentunya) itu penting untuk dijaga.
saat itu dia bicara banyak ke gue, ttg bagaimana sebuah pernikahan bagi tipikal keluarga indonesia bukan semata penyatuan 2 individu yang saling sayang/suka/cinta (*whatever*), tp juga penyatuan 2 rombongan keluarga yang berbeda.. tinggal bagaimana kita meyakini prinsip kita “where will our loyalities lie..?” nah,, nah,, sekarang,, gue menemukan sebuah kisah yang slama ini ga pernah terungkap, secara pada saat kejadian gue masih kecil, belia dan polos,,
kk gue yang no.2 (perempuan) adalah anak kesayangan ibu, dia selalu membelikan apapun yang diinginkan oleh ibu, pendeknya dia memang anak perempuan kebanggan orang tua (cantik, cewe bgts, sukses di karir) tp sayang keras kepalanya jadi, bagitu dia ingin sesuatu, maka keinginannya harus dituruti,,, nah-nah,, kejadiannya pada saat my second sister find his future-husband, and didn’t get enough trust from my family.. dari awal,, ibu ngga begitu sreg dgn pilihan dia, begitu juga dgn kk2 gue yang lain.
detail persisnya gw ga gitu tau ya, cuma ada kenyataan yg rada “jomplang” gw temui disini, dimana kk gw adalah wanita karir cantik, pintar, dan banyak duit, tp knp dia “end-up” sama ‘supir angkot’,,, please she could find a better man out there… (itu pikiran gue pd saat itu).
tp ternyata itu bukan masalah jodoh,, somehow, gue baru tau, kaka gue meninggal karena “guna-guna”, itulah sekelumit cerita dari nyokap gw.
malam itu, gw agak “berdebar2″ juga denger true story dari kk gue, dimana dia pernah mengalami semalaman ngga tidur (mungkin feeling/intuisi yang bicara) dan dia berdoa sepanjang malam, sambil menunggu pagi tiba, demi menangkal gangguan itu, itu pun yang dilakukan sepanjang malam ketika kk gw (D) menunggu dia (N) di rumah sakit, trus berdoa sepanjang malem, supaya gangguan itu ngga datang menyerang.
oh ya, apa yang terjadi tatkala malam itu, kk gw menunggu di rumah? yah dia selamat dari “gangguan”, tp kk gue si (N) ini, krn dia dalam keadaan lemah, maka, kena’lah dia, kk gw (D) cerita, kalo lagi kumat (pengaruhnya), dia sangat keras kepala, apapun omongan keluarganya slalu ditentang, tp kalo pas si (N) ini lagi “normal” (setelah mendpt suntikan rohani tentunya), dia akan bilang… “kan bukan mau saya untuk begini, saya ngga mau seperti ini..”…
sementara nyokap gw cuma bilang simple… : “yaah, itu kan pilihan-mu sendiri”, saking seorang ibu ngga mau nyakitin perasaan anaknya…
ok,, enough about my story, my sister had rest in peace in her little world, may Good bless her…
gue berutang banyak sama nyokap gue, secara she took care of me very well at this ages, well, apa sih yang dibutuhin orang tua..? not money, not best medicine, not some nice vacation nor the gift…. tp kita hanya butuh menjaga perasaan beliau, itu saja yang gue dapat pahami selama ini.
ibu sebagai orang tua kita, sudah mengalami hidup lebih banyak dari kita, sering gue berkata tanpa mengabaikan perasaanya, tp memang analogi kehidupan itu sangat ironis, pada saat kita tua, kita butuh dimengerti, dihargai, dan dilayani,,, (sebagai balasan, krn beliau melayani kita sejak dalam kandungan..) krn hubungan darah antara ibu-anak adalah suatu mata rantai yang ngga bisa diputus oleh apapun.
oh, mum,, I luv u so much,,,